Kuliah Jurusan IT/Komputer Hanya Sia-Sia Belaka?

Entah dari mana awal artikel ini muncul, penulis yang membuat artikel ini jujur saya katakan HEBAT! Kenapa Saya berkata demikian, ya karena dari cerita yang dia sampaikan bahwa dia yang dari office-boy secara otodidak belajar programming sampai pada akhirnya membuat produk aplikasi sendiri yang dipakai di sebuah hotel, disamping itu dia menjadi Manager, trainer, dll.

Tapi tau kah kalian, apa yang dia sampaikan diartikel ini tidak sangat tidak tercermin karakter positif dan semangat memotivasi mereka-mereka yang sedang kuliah IT.

Sumber tulisan saya dapat dari kaskus, silakan lihat disini

Mari kita baca artikelnya dan langsung saya tanggapi (saya akan tanggapi dari perspektif berbeda tidak hanya berkaitan dengan IT).

—-

Tahukah Anda mengapa kuliah Jurusan Komputer sia-sia belaka? Tahukah Anda mengapa sarjana komputer tidak lebih pandai daripada pedagang, programer dan teknisi komputer di pinggir jalan? Semua itu berawal dari salah kaprah tentang ilmu informatika dan teknik komputer. Banyak orang menyangka ketrampilan menangani peranti lunak dan piranti keras komputer hanya ada di bangku kuliah. Lalu dijadikan bekal untuk cari kerja. Nyatanya semua itu salah kaprah, kenapa?

Untuk menjawab pertanyaan sederhana itu mari perhatikan beberapa hal di bawah ini:

1) ORANG TUA MURID BUTA DUNIA KOMPUTER

Sejak awal 1990 banyak orang tua murid menargetkan anak jago komputer. Demi menyaksikan kehebatan mesin komputer merajai meja kerja. Anak anak pun berduyun ambil kuliah jurusan komputer. Pebisnis menyambut gembira dengan membuka akademi dan perguruan tinggi jurusan komputer. Tarian Iklan jurusan komputer menghembuskan mimpi mimpi indah. Seakan penyandang gelar diploma dan sarjana komputer adalah jaminan masa depan cerah. Nyatanya setelah lulus kuliah koq beda jauh, kenapa?

Karena hanya latah ikut-ikutan arus besar tanpa memahami dunia komputer yang sejatinya hanya alat mempermudah pekerjaan melalui bantuan teknologi.

Tanggapan saya (General):

Pertama, saya tidak heran jika banyak orang tua ditahun 1990 ingin anaknya sekolah yang tinggi agar tidak sama dengan orang tuanya yang sama sekali tidak berpendidikan, saya saja yang lahir 1992 orang tua saya tetap memotivasi saya agar saya sekolah, jadi anak yang berpola pikir bagus.

Kedua, orang tua mana yang tidak bangga ketika melihat anaknya sukses menyelesaikan pendidikannya? Apalagi menyelesaikan level sarjana (bagi mereka para orang tua yang tidak bersekolah).

Ketiga, memang dari para orang tua banyak yang bilang “Sekolahlah yang tinggi, biar kamu jadi orang sukses”, salahnya dimana pak? Menurut saya sih itu wajar karna semangat orang tua yang ingin anaknya sekolah. Wajar karna orang tua dulu tidak pernah yang namanya memiliki pengetahuan bagaimana persaingan dunia kerja sekarang ini. Dulu banyak sekolah yang lulus langsung kerja, banyak sekolah ikatan dinas. Jadi mungkin tolak ukur orang tua dulu itu ya seperti itu.

Orang tua saya tidak menargetkan saya harus kuliah jurusan IT, Ekonomi, Kimia, Mesin, dll. Semua itu adalah pilihan saya nantinya ketika kuliah. Orang tua saya hanya bilang “Pendidikan itu investasi”, orang tua sayapun bilang sukses itu kerja keras dan doa, tidak ada kerja keras setinggi apapun sekolahmu akan gagal. Sekedar informasi orang tua saya hanya tamat SMP (Bapak), Ibu (Tidak lulus SD) cuma mereka punya mimpi semua anaknya harus sekolah, karna dari sekolah-lah kamu akan “Berinvestasi Masa Depan”.

Pertanyaannya, orang tua – orang tua yang Bapak katakan pada tahun 1990 itu bapak lihat dimana? Dari sudut pandang mana, apakah sudah lihat sudut pandang lainnya? Apakah sudah lihat semua background para orang tua, apakah hanya ke jurusan IT/Komputer saja? Orang tua saya saja (saya yakin) pada tahun itu belum kenal kata Programmer.

Ya mungkin yang Anda lihat itu yg orang tuanya sudah jadi Manager/Supervisor/CEO yang sudah pasti kenal komputer dan programmer kemudian memaksa anaknya kuliah di jurusan IT (Kalau begini saya setuju dengan kata Anda, SALAH KAPRAH!)

 

2) TIDAK PERLU KULIAH AGAR TRAMPIL KOMPUTER

Ijinkan saya berbagi pengalaman pribadi. Jika ingin trampil komputer banyak cara: kursus 2 bulan atau belajar sambil jalan di tempat kerja. Lain lagi jika ingin berkarir di bidang komputer (IT/MIS/EDP). Setidaknya perlu waktu 2 tahun praktek langsung sebagai programer (piranti lunak/software) ataupun teknisi (piranti keras/hardware). Waktu 2 tahun itu di luar masa kuliah jika ambil jurusan komputer. Mengapa? Sarjana komputer lulusan Indonesia, Australi, Amerika sama sama cuma tau teori. Praktek NOL BESAR.

Kebetulan saya jadi programer sejak 1985. Jadi programer secara otodidak di kantor. Ketika itu saya bekerja sebagai Office Boy di perusahaan patungan Pertamina-Spinneys London. Kantornya di Gedung Patra Jasa lantai 14 Jakarta Selatan. Untuk meningkatkan pengetahuan dunia programming kemudian saya ambil kursus-kursus di samping baca-baca buku atas biaya kantor.

Sejarah membuktikan beberapa murid dan anak buah saya di kemudian hari adalah sarjana komputer. Baik lulusan Indonesia maupun lulusan luar negeri. Di antaranya ada puluhan manager dan eksekutif Eropa belajar komputer kepada saya. Mereka pekerja asing (expatriate) di Indonesia. Padahal saya bukan sarjana komputer.

Background saya? Tidak ada kaitan dengan teknik dan komputer. Saya jebolan sekolah guru SPG TEGAL 1981 dan Drop Out Fakultas Sastra Inggris UKI Jakarta 1983. Jadi Office Boy 1983-1984. Jadi programer secara otodidak sejak 1985. Tahun 1990 jadi system developer dan Manager MIS. Tahun 1991 saya ciptakan aplikasi sistem managemen perhotelan yang laku dijual kepada hotel-hotel chain. Salah satunya adalah Accor-Ibis Indonesia. Software bernama “FOSYS+” buatan saya bercokol di Ibis Cikarang sejak 1993-2010. Pada 1993 harga (price list) FOSYS+ berkisar 75 juta, 25% dari harga software import.

Kata orang-orang hotel FOSYS+ adalah software made in putra Indonesia yang pertama beredar di pasar software hotel management system / Front Office System. Beroperasi dengan PC sementara waktu itu masih jamannya mainframe.

Ciri khas FOSYS adalah tampilan ROOM-BOX inquiry. Tampilan kotak-kotak di layar komputer untuk baca status kamar sebagai ganti tampilan berupa listing. Sejak itu menjadi acuan umum para developer jagoan sistem hotel dalam dan luar negeri. Puluhan tahun saya ketemu programer dan user sistem reservasi perhotelan. Mereka sering tanya, bahas atau pamer kehebatan ROOM-INQURY. Mereka tidak tau si pencipta tampilan ROOM-BOX adalah saya (agil) bekas Office Boy yang otodidak jadi programer.

Pengalaman kocak juga pernah saya alami. Sekitar periode 1986-2001 saya jadi pengajar kursus private komputer untuk kaum profesional di perusahaan-perusahaan swasta nasional dan asing. Di antaranya di bidang Real Estate dan Penerbangan Swedia, semua di Jakarta. Karena waktu itu komputer dianggap mesin ajaib, eh banyak cewek melakukan approach kepada diri saya padahal tahu saya sudah beristri. Bahkan anak big boss ada nekat ngajak love affair. Mereka cantik-cantik, muda-muda dan tajir-tajir. Duh, ampun godaan hebat bener, hahahaha…

Tanggapan :

Setuju!! Belajar tidak perlu dari dunia sekolah/kuliah. Bisa dari Internet, semua ada. Belajar programming tidak perlu kuliah IT, belajar Saham tidak perlu sekolah, pengen belajar rangkaian listrik tidak perlu sekolah elektro, semuanya bisa cukup otodidak dan kursus-kursus saja. Saya setuju dengan ini, malah sangat setuju.

Pertanyaan saya simple Pak, Nanti jika anak Anda sudah dewasa, tolong jangan disekolahkan, cukup kursus saja, maka meraka pasti akan bisa dan menjadi expertise apa yang mereka dalami. Saya tunggu infonya ini. hehehe

Anda jurusan sekolah guru SPG tegal dan (anggap saja) lulusan Fakultasi sastra inggris UKI Jakarta, pertanyaan saya, kenapa harus sampai kuliah dan menggambil Fakultas sastra padahal di internet/buku-buku perpustakaan banyak materinya? (Orang bodoh secara mental mungkin akan bertanya begini).

Bahkan Paman saya yang tidak lulus SMP, sekarang bahasa ingrrisnya lancar banget, pernah saya dengar dia bertengkar dengan orang Australia (Bapak pasti tahu bagaimana gaya bicara orang australia yang lengket, susah didengar). Paman saya tidak perlu tuh Fakultas Sastra, bisa Anda jawab?

Paman saya bisa karna ada niat, doa dan kerja keras makanya bisa. Sama dengan Anda Ada niat, doa dan kerja keras juga belajar progamming makanya Anda bisa jadi programmer handal.

Jadi tolong kalao mau menilai sesuatu itu dari 2 sisi, jangan hanya sisi Anda saja yang dilihat, biar jatuh-jatuhnya artikel Anda itu memotivasi banyak orang yang sedang putus asa dengan jurusan yang Dia ambil.

Saya sebagai orang yang bertuhan, saya percaya Tuhan yang menentukan semua kesuksesan itu dari jalan yang kita tidak rencanakan. Kita kuliah IT belum tentu suksesnya di IT, bisa jadi pebisnis property yang sukses, dll.

Jika Anda bilang begini, percuma kuliah IT toh akhirnya jadi pebisnis property juga. Ya sama halnya dengan Anda, percuma kuliah keguruan dan sastra toh akhirnya jadi programmer. Kenapa gak dari dulu aja ngambil kuliah IT. Adil kan?

Kita hanya berencana mau ngambil kuliah apa, tapi Tuhan menentukan kesuksesan kita dibidang mana, tentunya dengan kerja keras juga.

Tapi saya kagum dengan Anda, sebegitu hebatnya Anda bisa membuat aplikasi sendiri dan bahkan mengajari training anak-anak sarjana. Langka mas.

Yang saya herankan, harusnya Bill Gates dan Mark Zuckerberg harusnya menulis artikel seperti Anda, dan saya herankan Bill Gates menyuruh orang untuk kuliah agar tidak seperti dia yang DO (drop out).  Padalah mereka sudah punya product yang dipakai dunia, kok masih peduli dengan orang-orang agar kuliah, harusnya suruh otodik aja sih kalo menurut saya.

 

3) BANYAK SARJANA KOMPUTER TIDAK MAMPU JADI PROGRAMMER, HANYA JADI INSTALLATOR

Bukan rahasia lagi bahwa banyak sarjana komputer hanya tau teori. Bikin program aplikasi nol besar. Walaupun bisa bikin hanya mampu dioperasikan oleh diri sendiri, sering error, sulit dikembangkan. Mereka hapal Flow Chart, Alogaritma dan Diagram Data Flow tapi gagal menerjemahkannya dalam praktek programming. Jagankan bikin program untuk dijual secara umum, untuk dipakai di tempat kerja sendiripun tidak mampu. Hal ini menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu praktek langsung. Umumnya dua tahun untuk jadi programer handal.

Sebuah majalah khusus komputer Indonesia dua tahun lalu melaporkan hasil penelitian bahwa hanya sekitar 10% orang IT yang mampu jadi progmmer. Sisanya hanya jadi installator. Maksudnya hanya instal system Windows dan software lainnya. Ini beda jauh dengan era 1980an di mana pekerja IT/MIS/EDP 70% adalah programmer. Padahal bikin sistem sejak 2000 jauh lebih mudah karena tersedia ribuan library untuk source code (source program). Sedangkan pada era 1980an source code hampir 80% bikin sendiri. Ketika mesin komputer sangat sentitif (mudah error), barang baru dan aneh, hanya orang komputer yang dapat mengoperasikannya.

Sebaliknya banyak programer tanpa latar belakang pendidikan komputer. Dalam hal ini berlaku hukum” kuasai sitem sebelum Anda merancang sebuah sistem“. Misalnya jika Anda ingin membuat sistem akuntansi maka Anda harus pelajari sistem akuntansi: jurnal keuangan, arus kas, rugi-laba, neraca.

Mungkin sudah watak manusia ketika baru melek komputer, apalagi pegang ijasah dan gelar, terus petentang-petenteng menyangka diri sudah jago. Padahal dunia komputer meluputi banyak jurusan dan jenis ketrampilan. Misal programmer jagoan belum tentu pandai merangkai hardware, teknisi senior bisa jadi buta sama sekali tentang programming. Programming di sini saya maksud adalah merancang program dengan Progamming Language (bahasa pemograman) baik low-level maupun high-level, dari mulai Assembler, C, BASIC, dll.

SALAH KAPRAH: Banyak salah kaprah disangka jago bikin sistem dengan Microsoft-Excel sudah jadi programmer, ah itu kan cuma spreadsheet yang diprogram dengan Macro-coding. Atau jago ngehack (hacking/hacker) disangka pasti jagoan programmer – lho itu kan cuma merusak/mencuri bangunan sistem dari suatu lubang, bukan membangun sebuah sistem yang dibuat programmer untuk dinikmati umum. Programmer itu , setidaknya, merancang sistem dari nol hingga menghasilkan executable file (.exe) yang telah diuji oleh user, terbukti running well ketika diinstall dan implementasi, termasuk error handling, selama bertahun-tahun di tempat berbeda-beda.

Tanggapan :

Ya saya sependapat kalo dikelas itu banyak Teori yang datang, praktek sedikit. Tapi satu hal yang perlu Anda garis bawahi, jangan pernah menyalahkan peserta didik, karna kurikulum itu lahir dari institusinya.

Jika di institusinya mengajarkan hanya teori, flowchar, algoritma ya output siswanya (bagi mereka yang kurang suka explorasi materi sendiri) jadi seperti itulah.

Untuk kasus seperti point ini, Bapak yang sudah jago dan tau apa-apa saja yang perlu di pelajari agar bisa jadi programmer handle seperti Bapak harusnya yang dikritisi itu Institusinya pak, saya rasa akan lebih tepat sasaran pak.

Tentang yang salah kaprah :

ini ditujukan kesiapa ya? Mereka yang kuliah jurusan IT apa Non IT?

Kalau jurusan Non IT wajar sih pak, Saya aja pernah dibilangin begini, “Kamu kan jurusan information, benerin TV sayalah, ANTV nya gak nangkep” ada juga yang bilang gini kesaya “Kamu kan jurusan IT, boleh minta tolong gak pasangin CPU saya kemarin habis saya bongkar gak bisa saya pasang lagi”

Oalah, saya selama kuliah hanya main coding-coding doalng belum pernah yang namanya bergelut dibidang hardware sekarang malah disuruh benerin hardware. Jujur saya pak, saya gak bisa pasang CPU dari awal, kalo bongkar bisa. hahaha.

Dikiranya baru ngelihat ngoding dikit aja, dikira jago semua IT. Dan yang paling extreme ya pak, “Kamu kan anak IT, tolong hack facebook temen aku dong” hahahaha Hands up

Kalo ditujukan ke orang IT, sebegok-begoknya orang yang pernah kuliah IT, pasti tau bedanya pak, mana programmer bahasa A, B, C, Mana Yang expert di jaringan/hacking dan mana yang jago Instalator software/hardware. Itu semua punya bidang masing-masing pak.

Oya pak, itu Bapak bisa .exe saya gak bisa pak jujur, tapi saya bisa .apk (application package file) hahaha. Temen saya gak bisa .apk pak, bodoh banget ya, tapi dia jago bikin .ipa (iOS App Store Package):v

Jadi kedepannya mohon buat artikel itu yang memotivasi lah, sesuaikan dengan perkembangan teknologi yang semakin maju dari masa ke masa. Boleh membanggakan diri untuk memotivasi mereka yang tidak sekolah agar mau sekolah, mereka yang tidak bisa apa-apa jadi bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat.  Jadi intinya sesuatu yg bisa kita lakukan dijadikan motivasi ke orang lain agar mereka lebih focus ke apa yang mereka sedang perbuat.

 

4) SYARAT BERKARIR DUNIA KOMPUTER

Banyak orang tidak tahu bahwa untuk terjun ke dalam dunia komputer perlu syarat pokok sbb: kuat dalam ilmu pasti/matematika, kuat melek/begadang sampai pagi, suka seni. Orang bilang komputer adalah paduan antara ilmu pasti dan keindahan seni. Ilmu pasti karena berurusan dengan rancangan angka-angka dan logika yang harus tepat-akurat. Seni karena perlu imaginasi daya cipta bekerja di alam awang-awang untuk mewujudkan rangkaian imjinasi digital dalam batok kepala jadi nyata di layar komputer.

Syarat tambahan: siap-siap dicap sebagai orang gila karena kebanyakan orang IT adalah workaholik (gila kerja), susah diatur, eksentrik, suka ketawa sendiri di depan komputer, hehe…
Dengan uraian di atas maka saya berpendapat, mohon maaf, bahwa kuliah jurusan komputer di Indonesia lebih banyak sia-sia. Karena kebanyakan hanya latah, tidak paham syarat pokok berkarir di bidang komputer, gagal menjadi teknisi/programer handal, tidak menjamin dapat pekerjaan. Oleh karena itu hendaknya berpikir ulang jika akan ambil kuliah Jurusan Komputer. Dan jika terlanjur salah pilih masuk Jurusan Komputer maka tak ada kata terlambat untuk cabut dan pindah ke jurusan yang benar-benar Anda sukai/cintai.

Bagi Anda yang bingung ataupun tersinggung dengan artikel ini silakan periksa latar belakang Bill Gates si raja software pencipta MS-DOS dan MS-Windows system, dia cuma drop out dari Harvard University yang tidak tidak hubungan dengan pendidikan formal komputer. Inilah bukti pendidikan formal bukan segala-galanya apalagi sekedar tujuan untuk tidak gagap teknologi. Jika di Indonesia banyak iklan nipu Orang Tua Murid tentang Kuliah Jurusan Komputer, jangan heran deh…!

Tanggapan :

Setuju pak, Cap-cap seperti itu pernah saya alami, karna begadang terus sampe kelopak mata bagia bawah menghitam ahahaha. Satu lagi pernah juga disebut pesugihan karna selalu begadang tiap malam (dikira jagain lilin kali biar gak mati :v). Setiap pekerjaan punya resiko tersendiri, siap atau tidak siap, ya harus di jalani.

Buat kalian yang mengisa salah jurusan (misalnya sudah semester 7, dikit lagi mau lulus) harus pindah kah? gak sia-sia biaya dan waktu? Ya kalo orang kaya sih gak masalah, kalo orang seperti saya?

Ya kalo masih semester 1,2,3 sih kayaknya masih lebih baik pindah jurusan yang sehati aja, biar enak belajarnya.

Oya kenapa gak nyaranin kursus atau otodidak aja ya pak seperti yang bapak singgung di awal-awal artikel? Kan kalo orang yang punya minta dibidang tertentu, otodidak pun cukup untuk menjadi orang hebat. Contohnya bapak sendiri, dari otodidak jadi programmer hebat

Bill Gates memang kena DO, tapi pernah baca gak kalo Bill Gates justru menyarankan orang-orang agar kuliah biar tidak seperti dirinya DO? Pernah baca gak?

Tapi setidaknya Bill Gates tidak mengatakan pendidikan itu sia-sia untuk jurusan tertentu, itulah bedanya Bill Gates dengan Anda, pak. Tidak ada pendidikan yang sia-sia.

Untuk masalah iklan kampus yang dibesar-besarkan dan kata Anda tipu-tipu orang tua murid. Namanya juga bisnis pak, mereka pasti menampilkan iklan terbaik menurut mereka untuk menarik mahasiswa baru sebanyak-banyaknya.

Begitu juga sama halnya dengan mereka yang sedang mempromosikan produk, pastilah mereka berbica yang agak lebay biar calon pelanggannya pecaya, ya kan? Itu strategi marketing, pak. Kalo malasah disalam kampus tersebut bagus atau tidaknya, saya no comment ya.

Sesungguhnya mencintai suatu ilmu/ketrampilan adalah separuh jalan menuju pintu-pintu sukses jika digeluti dengan sungguh hati.

 

Tanggapan :

Mantep sekali kata-kata mutiaranya. “Ketika separuh kesuksesan datang, jangan hanya melihat sesuatu dari satu sisi, cobalah lihat sesuatu dari sisi lainnya, maka Anda pasti akan paham bahwa apa yang orang-orang alami tidak semua seperti yang Anda tuliskan. Lebih baik memotivasi dari pada mendiskriminasi orang dengan jurusan tertentu”

Entah kenapa dari artikel yang Bapak tulis saya berpendapat bahwa Anda justru menyombongkan diri sendiri dengan merendahkan apa yang dilakukan orang (Khusunya mereka yang kuliah IT) dan tanpa ada motivasi (aura positif) sedikitpun.

Akhir Kata

Pada point banyak orang yang kuliah IT gagal menjadi programmer dan bahkan ada banyak yang menghindari dunia IT (khusunya programmer) sebagai pekerjaannya, saya setuju, karna dari teman-teman saya juga banyak yang tidak mau jadi programmer

Ada yang bilang karena bukan passion nya, ada yang bilang tidak tertarik karna susah, ada yang bilang tidak bisa pemrograman. Intinya mereka tidak mau mencoba dan rasa ingin tahu tentang dunia programming, dan intinya lagi mereka tidak minat.

Dari yang tidak mau mendalami pemrograman (dari bangku kuliah), maka akan masuk ke fase tidak suka dengan mata kuliah pemrograman, kemudia masuk ke fase bukan passion dan yang terakhir tidak akan mengambil pekerjaan sebagai programmer

Tapi mau diapakan lagi, pak. Orangnya sudah tidak mampu untuk menjadi programmer.

Mau bilang “Kenapa tidak pindah jurusan?”, saya sudah bahas diatas tadi, silakan baca-baca lagi.

Sebenarnya kalo mau adil ya, tidak cuma di IT aja terjadi hal seperti ini, di jurusan lain juga banyak. Teknik Mesin misalnya, jika mau mengambil persentasi ya pak, berapa banyak lulusan Mesin yang bekerja sesuai bidangnya?

Contoh lain, jurusan Design, Kebumian, berapa persen diantara mereka yang bekerja sesuai bidangnya? ya pasti ada banyak juga pak.

Mereka mungkin juga punya beragam alasan, ada yang bilang karna susah nyari kerja di bidang ini, susah diterima makanya nyari perusahaan yang beda bidang keilmuan, ada yang bilang kurang tertarik, dll.

Ada juga yang seorang guru, malah bisa jadi milliuner hanya karna dia suka design.

Jadi intinya, sukses itu kerja keras + Doa + restu Tuhan, manusia hanya bisa berencana

Apakah saya tersinggung karna artikel Bapak ini? Sama sekali tidak, cuma menyadari kenyataan dilapangan, iya. Tapi kenyataan-kenyatan seperti ini banyak juga terjadi dijurusan yang lain, tidak hanya IT.

Satu hal lagi, dari artikel yang bapak tulis, saya bisa tahu bahwa masih banyak orang yang hanya melihat dari satu sisi, dan sisi itu memiliki sudut yang sempit.

“Judging a person doesn’t define who they are, but it defines who you are”

(Visited 58 times, 1 visits today)



Baca juga :


About The Author

Related Posts

Add Comment

Berlangganan Artikel

Untuk mendaftarkan tutorial pemrograman terbaru dari putuguna[dot]com, silakan tuliskan email kalian dibawah ini